Profil

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sungguh tiada puji kemuliaan dan rasa syukur yang kita panjatkan kecuali kepada Allah SWT. Beliaulah Dzat yang Maha Rahman dan Maha Rahim.
Madrasah Tsanawiyah Negeri Luragung berupaya menggapai cita-citanya, yakni mendidik generasi muda bangsa menjadi generasi yang Beriman dan Berilmu dalam Beramal.
MTs Negeri Luragung adalah lembaga pendidikan menengah dengan standard pendidikan yang Islami, yang pengelolaannya dibantu oleh Kementrian Agama. MTs Negeri Luragung telah mengembangkan pembelajaran dengan media berbasis teknologi informatika. Dan untuk membuka akses dengan masyarakat luar, telah dibuka layanan WEB. Tujuannya, selain memberikan informasi, juga ingin menyerap berbagai masukan positif dari stakeholders demi kemajuan MTs Negeri Luragung. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih dengan tulus hati atas peran dan bantuan dari semua pihak khususnya Komite Sekolah. Semoga Teknologi Informasi sebagai wujud peradaban manusia saat ini senantiasa membawa kemuliaan bagi kita semua. Amin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


VISI DAN MISI MTs NEGERI LURAGUNG
Visi
"Membangun Sumber Daya Manusia yang Populis, Islami dan berkualitas dengan Ilmu dan Akhlak Karimah"

Misi
- Meningkatkan kualitas layanan yang menghasilkan output yang baik.
- Mengupayakan kondisi Islami dengan simpati masyarakat.
- Menyelenggarakan kegiatan keagamaan dan kegiatan lain yang bersifat pendidikan.


MERINTIS PGA LURAGUNG
DULU mengecap pendidikan di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama yang disebut PGA, bukan suatu hal yang membanggakan. Bahkan bagi sebagian orang tua, mereka enggan menyekolahkan anaknya di PGA karena tidak memberikan garansi masa depan yang prospektif. Berbeda bila sekolah di sekolah umum, yang mungkin saat itu lebih prestisius bila menyekolahkan anak­-anaknya dan memiliki kasta tersendiri. Sekolah dengan label agama, seolah menegaskan adanya kasta sosial yang saat itu berpengaruh di masyarakat. Hingga bagi murid-murid PGA saat itu, sinisme dari teman-temannya yang belajar di sekolah umum, menjadi bagian dari sejarah hidupnya yang tak terlupakan. Mungkin di hati guru-guru PGA yang masih ada dan sudah berpulang, menjadi murid atau siswa PGA Luragung saat itu justru menjadi penggalan sejarah hidupnya yang sangat bernilai.

Dikotomi pandangan terhadap nilai-nilai saat itu sangat dipengaruhi oleh kuatnya idiologi yang menentukan cara pandang mereka terhadap dunia. Dalam pandangan Dimyati, dikotomi idiologi Islam versus sosialisme tersebut sebagai implikasi dari nilai-nilai sosialisme dan sekularisme yang dipahami elit-elit dan priyayi di saat itu. Idiologi berhaluan sosialisme dan agama saat itu berhadap-hadapan, keduanya memiliki konstruksi dan parameter berpikir yang hanya bisa dipertemukan dalam meja dan simpul persaudaraan atau pertalian kepentingan lainnya.

Menjadi siswa madrasah atau yang berlabel agama saat itu, adalah "musibah sosial" yang membutuhkan mental kuat untuk menjalaninya. Bagaimanapun, paham kiri yang berorientasi berpikirnya duniawi harus membutuhkan antitesa untuk menjaga keseimbangan. Murid-murid generasi pertama PGA Luragung terutama dari Galaherang dan mungkin dari daerah lainnya, menjadi martir antitesa tersebut. Hari ini mereka berkumpul merayakan kemenangan atas perjuangannya menjadi mantan siswa dengan status dan sosial yang setara dan sejajar dengan profesi lainnya.

Keberadaan guru-guru agama saat ini terutama di Kab. Kuningan dan di berbagai wilayah, bisa dikatakan tidak lepas dari peran dan kehadiran PGA Luragung di masa silam. PGA 4 Tahun Luragung, tepatnya di Desa Cirahayu Kec. Luragung telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan agama di Kab. Kuningan dan sekitarnya. Keberadaan PGA Luragung, merupakan pionir dan lanjutan perkembangan pendidikan agama dan keagamaan di Kab. Kuningan, dengan rentang sejarah dan dinamika yang panjang.

Titik Awal PGA Luragung
1. Masyumi dan Gagasan Islam Progresif
Berdirinya sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Luragung, memiliki kohesi pemikiran dengan spirit perjuangan pemimpin dan pejuang Islam yang ingin meletakan dasar negara dengan prinsip-prinsip universal Al-Quran pasca revolusi, prinsip yang menjadi postulat dasar berdirinya Masyumi. Partai di mana hampir semua umat Islam melabuhkan ekspektasi politiknya saat itu. Ide dan narasi besar Masyumi tentang Islam yang modern, sangat mempengaruhi jiwa progresif Dimyati yang menjadi pencetus gagasan didirikannya PGA Luragung. Karakter pergerakan yang kuat dalam dirinya, terlebih dia adalah seorang mantan tentara pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam sayap militer Hizbullah, haluan dan cakrawala berpikirnya melampaui batas-batas lahiriah dirinya, kondisi dan rekan-­rekanya saat itu.

Sekitar tahun 1950-an, pasca pembubaran Masyumi oleh pemerintahan Presiden Soekarno karena perbedaan menentukan dasar negara, M. Natsir bersama sejumlah tokoh Masyumi lainnya seperti Muhammad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Anwar Haryono dan Yunan Nasution yang kemudian dilarang untuk beraktifitas dalam dunia politik. Namun, mereka melihat celah lain untuk berkiprah di masyarakat, yakni dengan berdakwah dan pengakaderan. Jejak panjang perjuangan Masyumi untuk umat dan bangsa tidak bisa begitu saja dihapuskan di era kekinian. Masyumi lahir dari ide besar yakni Islamic Modernization, sebagai partai ia bisa dibubarkan tetapi sebagai ide besar ia akan tetap muncul dalam bentuk yang lain.

Masyumi berjasa mengenalkan identias Islam yang modern di Indonesia. Karakter Islam modern yang dimiliki Masyumi antara lain; melihat bahwa dalam masalah-masalah muamalah doktrin hanya memberikan ketentuan-ketentuan umum yang bersifat universal. Karena itu ijtihad harus digalakkan.
Instruksi ini menjadi titik strategis bagi terbukanya kesadaran akan pentingnya kader sebagai pewaris nilai-nilai idealisme yang diperjuangkan beliau. Kelak, instruksi tersebut menghasilkan arus gelombang yang kuat menyisir dan membangkitkan idealisme keislaman yang berorientasi dan berinvestasikan jangka panjang, yakni pentingnya pendidikan bagi umat Islam.

2. PGA: Sebuah Ijtihad
Untuk menterjemahkan visi keislaman progresif tersebut. Dimyati, yang saat itu adalah seorang guru yang bertugas di SMP Luragung, kemudian mencetuskan gagasan mendirikan sekolah Pendidikan Guru Agama yang kelak akan melahirkan kader-kader pemuda militan dan dikemudian hari menjadi orang­orang sukses. Sebuah gagasan yang sulit diterjemahkan, bila dikaitkan dengan kondisi yang serba terbatas dan kekurangan, terlebih mendirikan sekolah dengan label agama di Luragung yang saat itu berstatus kawedanan. Luragung saat itu memiliki stigma sebagai daerah yang memerlukan intensitas dakwah. Daerah ini di dominasi paham Islam abangan, pada setiap pandangan yang berkorelasi dengan agama tentunya akan berbenturan dan tantangan serta akan beresiko secara fisik maupun mental bagi dirinya maupun rekan-rekanya.

Allah Maha Kuasa, Dimyati kemudian menyampaikan gagasan ini kepada rekan-rekan seperjuangan di antaranya Bapak Mahmud, Bapak Satori, Bapak Mugni, Bapak 0. Sodikin, yang kelak mereka dikenal sebagai pendiri PGA Alma'arif Luragung. Dengan mendasarkan pada tujuan mulia untuk kepentingan umat semata, mereka sepakat melakukan ijtihad untuk mendirikan sekolah guru agama di Luragung. Tahun 1964, berdirilah sekolah Pendidikan Guru Agama Swasta 4 Tahun Luragung dengan nama PGA Alma'arif Luragung. Nama Alma'arif, tentunya sangat identik dengan label sekolah maupun madrasah yang berafiliasi ke NU. Mungkin ada pertimbangan tertentu, sehingga PGA yang dirintis tersebut dinamai demikian. Secara sosilogis, masyarakat sekitar dan tradisi sosialnya menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah, idiologi NU yang mengedepankan prinsip-prinsip keislaman yang terbuka meski konstruksi berfikir Dimyati sebagai pencetus gagasan PGA Luragung sangat dipengaruhi oleh Masyumi yang berbeda visi dalam menterjemahkan Islam dengan NU. Terintegrasinya pemikiran Masyumi yang modern dan NU yang tradisional dalam pribadinya, menjadi karakter unik tersendiri dalam menterjemahkan ide maupun gagasan keislamannya.

3. Dari Mana Murid, Guru, dan di mana Tempat Belajar?
Kesepakan ijtihad didirikannya sekolah Pendidikan Guru Agama tersebut, menyisakan persoalan dan pertanyaan besar di antara mereka. Pertanyaannya, dari mana murid-muridnya, siapa yang akan menjadi guru-gurunya, dan di mana tempat belajarnya. Sebuah ijtihad yang hanya didasari oleh semangat perjuangan tanpa memperhitungkan instrumen pendukungnya. Dimyati kemudian menawarkan gagasan, bila yang kelak menjadi murid­-murid pertama sekolah tersebut adalah anak-anak mereka, keponakan maupun saudara-saudara yang lainnya dan guru-­gurunya tentunya mereka juga.

Sebagai catatan, anak-anak para pendiri PGA Luragung kemudian rata-rata mengabdi menjadi guru diAlmamater di mana orang tua mereka mendedikasikan dirinya. Sebuah komitmen perjuangan yang tidak boleh berakhirdan harus terus dilanjutkan.

Perlu diketahui, para pendiri PGA Luragung tersebut rata-rata berprofesi sebagai guru. Persoalan murid dan guru sudah teratasi, namun di mana tempat mereka belajar dan melakukan aktivitas pembelajaran. Di sinilah, kebesaran Allah SWT yang selalu memberikan jalan bagi sebuah niat ibadah yang tulus dari para pendiri.

PGA Alma'arif Luragung, secara geografis berada di Desa Cirahayu. Saat itu, di Desa Cirahayu terdapat sekolah Pertanian yang saat ini menjadi lokasi MTsN Luragung. Sekolah pertanian tersebut, melakukan aktivitas belajarnya pada siang hari, sehingga bangunan tersebut bila pagi kosong. Selanjutnya, pada pendiri melakukan pendekatan kepada kepala sekolah Pertanian tersebut yaitu Bapak Djasrif Tjawilasta dan kepala Desa Cirahayu agar bisa memanfatkan bangunan sekolah tersebut pada pagi hari untuk kegiatan belajar mengajar PGA Luragung.

Gayung bersambut, bapak Djasrif Tjawilasta dan Kepala Desa Cirahayu merespon dengan tulus gagasan tersebut dan antusiasme yang tinggi. Dan mereka bersedia akan membantu setiap perjuangan para pendiri dengan tangan terbuka dan ikhlas. Letak sekolah tersebut berada di poros jalan utama yang menghubungkan dengan wilayah-wilayah timur Kabupaten Kuningan. Kondisi fisik bangunannya terbuat dari bilik, dengan struktur tembok pasad setengah di bawah. Di situlah, sejarah awal PGA Alma'arif Luragung dimulai, sejarah yang saat ini ditulis dan bisa disaksikan entah sampai kapan. Sebuah titik awal, yaitu di mana berfikir adalah cakrawala dan kata-kata. Kata­-kata yang membumi, kata-kata yang membatin dan kata-kata yang memiliki ruh.

Dalam perkembangannya, keberadaan PGA Alma'arif Luragung yang menggunakan fasilitas bangunan sekolah pertanian melahirkan mutual simbiosis yang saling menguntungkan terutama bagi pengelola sekolah pertanian. Bagi sekolah pertanian, dalam hal ini bapak Djasrif Tjawilasta selaku kepala sekolah, tidak lagi repot mencari siswa bagi sekolahnya, karena ada "konsensus" bila siswa PGA otomatis menjadi siswa sekolah pertanian yang belajarnya di siang hari. Saat itu, murid-murid PGA mendapatkan dua disiplin ilmu yang berbeda yakni agama, umum dan pertanian dan selanjutnya mereka memperoleh dua ijazah yakni ijazah PGA dan Sekolah Pertanian.

Beberapa tahun kemudian, dengan segala keterbatasan dan kekurangan aktivitas belajar mengajar PGA 4 Tahun Alma'arif berjalan. Dengan guru yang seluruhnya berjumlah sembilan orang dan murid angkatan pertama kurang lebih 25 orang yang berasal dari Luragung dan sekitarnya dan dari Desa Galaherang yang berjumlah tujuh orang, tidak membuat perjalanan sekolah tersebut terhenti, bahkan mampu menamatkan muridnya untuk pertama kali pada tahun 1967. Pada perkembangan kemudian, tahun 1968 PGA Alma'arif Luragung berubah status menjadi PGA Negeri Luragung.
Keberadaan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) Luragung sekarang ini lahir dari sejarah PGA4 Tahun Alma'arif Luragung yang didirikan oleh H. Dimyati dan rekan-rekannya pada tahun 1964, selanjutnya alumni-alumninya neneruskan PGA 6 Tahun­nya di PGAN Pondok Pinang Jakarta atau ke PGAN di Cirebon. Pada perkembangan selanjutnya, MTs Negeri Luragung ditetapkan sebagai lembaga pendidikan Islam penerus PGAN 4 Tahun Luragung hingga saat ini

sumber buku : Sejarah Singkat Berdirinya PGA Luragung oleh Dodo Murtadlo


CATATAN SEJARAH
Perkembangan Pendidikan Islam pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, sangat terkait dengan peran Departemen Agama yang mulai resmi berdiri 3 Januari 1946, lembaga ini secara intensif memperjuangkan politik pendidikan Islam di Indonesia. Secara lebih spesifik, usaha ini ditangani oleh suatu bagian khusus yang mengurusi masalah pendidikan agama.

Dalam salah satu nota Islamic Education in Indonesia yang disusun oleh bagian pendidikan Departemen Agama pada tanggal 1 September 1956, tugas bagian pendidikan agama ada tiga, yaitu, pertama;memberi pengajaran agama di sekolah negeri dan partikulir, kedua: memberi pengetahuan umum di madrasah, dan ketiga; mengadakan Pendidikan Guru Agama serta Pendidikan Hakim Islam Negeri. Tugas pertama dan kedua dimaksudkan untuk upaya konvergensi pendidikan dualistis, sedangkan tugas yang ketiga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pegawai Departemen Agama itu sendiri.

Namun, sebelum nota diatas diterbitkan, tahun 1951 Kementrian Agama mendirikan Sekolah Guru Agama Islam (SGAI) dan Sekolah Guru dan Hakim Agama Islam (SGHI) diberbagai daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa. Para lulusan SGAI dipersiapkan untuk menjadi guru agama di madrasah-madrasah lbtidaiyah dan sekolah umum yang sederajat, sedangkan alumni SGHI di persiapkan menjadi guru agama baik di Madrasah Tingkat Menengah maupun di Sekolah Menengah Umum serta menjadi hakim pada pengadilan Agama. SGAI dan SGHI kemudian diganti menjadi PGA (Pendidikan Guru Agama) dan SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama). Pendidikan Guru Agama (PGA) terbagi menjadi dua, yaitu PGA Pertama (4 Tahun) dan PGAAtas (2 Tahun). Pada tahun 1957 SGHA dilebur dengan PGA, sedangkan untuk menjadi calon hakim Agama, didirikanlah Pendidikan Hakim Agama Islam Negeri (PHIN) dengan masa belajar 3 tahun).

Perkembangan madrasah yang cukup penting pada masa orde lama adalah berdirinya Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Tujuan pendirian sebagaimana telah diuraikan diatas, yakni untuk mencetak tenaga-tenaga profesional yang siap mengembangkan madrasah sekaligus ahli keagamaan yang profesional. PGA pada dasarnya telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Tetapi pendiriannya oleh Departemen Agama menjadi jaminan strategis bagi kelanjutan madrasah di Indonesia.

Pendidikan Guru Agama lslam yang merupakan lembaga pendidikan Islam didesain untuk mensuplai kebutuhan tenaga guru agama untuk madrasah. Setelah kebutuhan tersebut tercukupi sementara lembaga pendidikan Islam semakin diperlukan dan berkembang, mulai tahun 1978 perjalanan PGA beralih menjadi lembaga pendidikan Islam yang kemudian dikenal dengan madrasah. Peralihan PGA tersebut berdasar pada Keputusan Menteri Agama No. 16 Tahun 1978. Karena PGA tersebut masa belajar siswa selama 6 tahun, maka peralihannya terbagi menjadi dua jenjang yakni Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Bagi siswa kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 menjadi siswa Madrasah Tsanawiyah dan bagi siswa kelas 4, kelas 5 dan kelas 6 menjadi siswa Madrasah Aliyah. Pengukuhan peralihan tersebut dipertegas dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama.

sumber buku : Sejarah Singkat Berdirinya PGA Luragung oleh Dodo Murtadlo